SEJARAH GEREJA KINGMI KOORDINATOR DEIYAI
A. LATAR BELAKANG
Tahun 1880-an Pdt. DR. Albert Benyamin Simpson adalah seorang Pendeta Gereja Presbiterian dari Kanada pindah ke New York sebagai pendeta gereja tersebut. Aturan Gereja Presbiterian adalah Penjaga kebersihan gedung gereja lebih utama dari pada keselamatan jiwa manusia. Dan orang-orang Indian adalah orang asli Amerika yang hidup terlantar tanpa gembala. Pdt A.B. Simpson merasa terbeban bagi kaum yang tertindas sehingga Simpson menginjili orang-orang Indian dan mengumpulkan 100 orang. Gereja Kemah Injil lahir dari orang-orang Indian yang miskin.
Penglihatan A.B. Simpson : semua suku bangsa penjuru dunia memanggil Dia katanya “Mari tolonglah kami”. A.B. Simpson membuka Sekolah Teologi di Amerika untuk mengkaderkan tenaga-tenaga Misi sesuai dengan kebutuhan pelayanan di dunia.
Tahun 1928 Pdt. Dr. Robert Aleksander Jafray beserta rombongan datang ke Indonesia. Tempat pelayanan yang strategis menjadi pusat pelayanan di Indonesia adalah Makasar (Ujung Pandang) yaitu : Pusat Pekabaran Injil; pusat pendidikan dan pusat tokoh buku kalam hidup.
Tahun 1936 seorang pilot Belanda yang bernama Letnan Komandan F.J. Wisel adalah penemu danau Tigi, Tage dan Paniai melalui survey udara. Hasilnya melaporkan kepada misi CAMA dan misi Katolik Pusat.
Setelah itu, Pdt. Dr. Robert Aleksander Jafray meninjau pulau New Guinea dari Fakfak, bertemu dengan Dr. W. Cator yang baru pulang dari pedalaman New Guinea atau Paniai katanya bahwa“suku bangsa yang tinggal di pedalaman New Guinea ini sekalipun tidak mendapat pendidikan formal namun daya pikirnya tidak kala dengan suku bangsa lain”.
Tahun 1938 misi CAMA berkonferensi di Malino (Sulawesi), hasilnya ditawarkan dan diputuskan bahwa ditempatkan dipedalaman Irian Jaya. Pdt. Walter Post dan Pdt. Russel Deibler dan rombongannya menuju kearah timur pantai selatan Papua dengan memakai kapal laut dan tiba di kali UTA muara kali Yawei, bulan Desember 1938. Pelabuhan UTA merupakan pintu masuk Injil di Tanah Papua.
Setelah mereka tiba di pelabuhan UTA Pdt. Walter Post kembali ke Makassar karena lupa sepatu yang cocok memakai untuk mendaki gunung.
Pdt. Russel Deibler, orang-orang Suku Dayak (orang Kalimantan Gunung) dan Pemerintah Hindia Belanda berjalan kaki menembus hutan tropis, mendaki gunung-gunung, menurun lembah dan menyeberang sungai sampai tiba di Adaikunu bertemu dengan“Bpk Nikayaitawi Yine” telah menggenapi penglihatan misi Allah bahwa “Tibiikapai meitagi”artinya manusia kulit putih akan datang. Nikayaitawi Yine dan masyarakatnya menerima mereka dengan hati terbuka dan makan bersama-sama.
Rombongan Pdt. Deibler tiba di Woyakouda ketemu dengan beberapa masyarakat Bomou antara lain Makidaitawi Pekei, Kopaade Pakage, Todoyade Giay dan Pekamoye Pekei, pada saat mereka sedang mencari Kulit Genemo atau Damiyo.
Perjalanan mereka berjalan terus sampai tiba di Ideego bertemu dengan ada beberapa tokoh masyarakat Piniibo dan Badokapa bersama rombongan makan jamuan bersama sambil tanam patok tanda untuk membangun gedung gereja.
Perjalanan mereka terus berjalan sampai tiba di Kokakotu (Epeiyako) bertemu dengan Bpk Yawetewode Pinibo dan Ekakoto Pinibo mengatakan bahwa “Akiki mei mega-mega, aniki tou mega-mega” Artinya “kamu pendatang, saya orang asli”.
Perjalanan mereka terus sampai di Kokobaya bertemu dengan Ibopade Pakage dan masyarakat sekitarnya dan Ibopade Pakage mempersembahkan seekor babi Betina kepada misi CAMA dan rombongannya, babi tersebut mereka masak dirumah Weyakebo Mote di Yaba.
Tanggal 13 Januari 1939 tiba di Enarotali. Tanggal tersebut adalahHari Injil Empat Berganda di Tanah Papua.
Dan selanjutnya rombongan Pdt. Walter Post dan Christian David Paksoal menempuh jalan melalui Kugiaidimi, Tenedagi dan Yaba, oleh karena itu daerah Tigi merupakan pintu Injil masuk dipegunungan Papua dan pesisir Pantai.
B. KRONOLOGIS HARI BERDIRINYA GEREJA KINGMI DI TANAH PAPUA
1. Tanggal 13 Januari 1939 adalah situs sejarah Kingmi di Tanah Papua
2. Tanggal 11 Januari 1951 adalah hari berdirinya Gereja Kingmi Koordinator Deiyai, Dogiyai dan sekitarnya
3. Tanggal 20 April 1954 adalah hari berdirinya gereja Kingmi Koordinator Jayawijaya dan sekitarnya
4. Tanggal 6 April 1962 adalah hari berdirinya gereja Kingmi di Tanah Papua
5. Tanggal 28 Juni 1963 adalah gereja Kingmi berdiri di pesisir pantai
C. PERKEMBANGAN GEREJA KINGMI KORDINATOR DEIYAI DAN SEKITARNYA
1. Masa pelayanan dibawah pengawasan dan pembinaan misi CAMA
Pada umumnya sejarah Pertumbuhan Kemah Injil Gereja Masehi Indonesia (KINGMI) Koordinator Deiyai dan sekitarnya sangat serius menerima Injil sebagai suatu pedoman hidup.
Daerah Tigi merupakan salah satu daerah asing disebutkan dalam Pembacaan Sejarah Gereja Kemah Injil di Tanah Papua.
Ditinjau dari sisi lapangan kerja dalam tahun 1939-1949, konsentrasi misi pelayanan CAMA hanya diprioritaskan disekitar danau Paniai dan daerah bagian timur (Moni), karena beberapa alasan, yaitu : yang pertama: Tenaga Penginjil masih kurang, kedua : karena pembagian wilayah kerja antara Misi Katolik dan Misi CAMA, ketiga : karena hati orang-orang Tigi dan sekitarnya masih belum siap untuk menerima Injil, sebab belum ada waktunya.
Berdasarkan pembagian wilayah pelayanan antara Misi CAMA dan Misi Katolik maka tahun 1939-1949 konsentrasi Misi Katolik (Pater Herman Tillermans menjangkau daerah Tigi). Beliau telah membukaLima (5) tempat persekolahan sebagai pusat pewartaan Injil seluruh wilayah sekitar Danau Tigi yaitu, Yaba, Waghete, Meyapa,Okomo dan Diyai.
Pada tahun 1947 Misi Katolik (Pater Herman Tillermans) pertama beberapa kali datang menawarkan Pos Pewartaan Injil, membuka persekolahan Katolik dan membuka lapangan terbang Cesna Ama batas Amago sampai dengan Akouda (Ikiya pugi). tapi masyarakat Bomou bersatu dan sepakat dibawah pimpinan tokoh masyarakat atau kepala suku David Kotouki dan Degemou Pekei menolak katanya kami akan menerima “AKI PATOGA PEKA KADI KIKO TEKA BUKAINE, WOOKA TEDING TUAPODITA PEKA BUGUMAIKA MEITAGI NAKI EBUKAITA”.
Tahun 1946-1949 kesepakatan antara Misi Katolik dan Misi CAMA diprakarsai oleh Pemerintah Belanda membagi wilayah pelayanan yaitu : Bagian Barat dan Selatan pelayanan Misi Katolik dan Bagian Timur dan Utara pelayanan Misi CAMA dan tanam patok batas pelayanan di Udadimi.
Pada Tahun 1948-1949 Hamba-hamba Tuhan pribumi yang selesai dari Sekolah Persediaan Alkitab Enarotali diantaranya adalah : Putes Pakage, Petrus Dogoopia, Yohanes Pakage, Tomas Adii,Luther Adii, Lukas Yeimo, Ishak Kotouki, Albert Giay, Yusuf Makai, dan Daan Adii. Mereka tidak ditugaskan secara Organisasi melainkan diutus secara survei tempat-tempat yang layak dibuka Pos Persekutuan Doa atau Sekolah Minggu dimasing-masing Kampung:
Pada Tahun 1949 Putes Pakage, Petrus Dogopia dan Salmon Pakage melakukan survei di Begapa bersifatSekolah Minggu. Yohanes Pakagesurvei dan membuka Pos Persekutuan Doa sementara di Damoti, lalu dipindahkan di Deneuto Dokoge. Pada waktu yang sama Tomeipiwode Giay dan Elisa Edoway juga mengumpulkan beberapa masyarakat disekitar Toputo Ipoupouda untuk bersaksi.
Pada tahun 1949 itu juga Bpk Zakheus Pakage dan Bpk Karel Gobay pulang dari sekolah Alkitab Makassar tiba di Paniai.
Bpk Zakheus Pakage merasa Pelayanan itu sangat penting dan terbeban maka Bpk Zakheus Pakage berani menghadap kepada Pemerintah Belanda untuk meminta ijin, katanya “PELAYANAN PEMBERITAAN INJIL TIDAK PERLU DIBATASI OLEH SIAPA PUN TETAPI BEBAS MENGINJILI DI DAERAH PANIAI”
Pada tahun 1949 Misi CAMA Tawarkan kepada Bpk Zakheus Pakage untuk tugaskan Pelayanan dibagian Daerah Timur (Paniai).
Tahun 1950 Bpk Zakheus Pakage mengajar Sekolah Alkitab di Enarotali dan melayani dibagian Timur (Daerah Moni).
Beberapa kali Bpk Zakheus Pakage menghadap kepada Pemerintah Belanda, Misi CAMA dan Misi Katolik namun tidak ditanggapi serius akhirnya Bpk Zakheus Pakage meminta dengan tegas bahwa “Kulit hitamku dikupas dan jadikanlah tubuhku menjadi kulit putih baru aku percaya, kalau tidak mampu saya tetap membuka Pos Pekabaran Injil didaerah Tigi”.
Pada bulan awal Oktober 1950 masyarakat Yibagouyoweta (Bomou III) bersama Kepala Suku Ipougai Pakage datang jemput Ogai Zakheus Pakage melayani masyarakatnya sendiri di Bomou, untuk mengajar misi social konteks budaya Mee dan suatu perubahan yang terjadi sehingga masyarakat Mee datang dari berbagai kampong untuk mempraktekan Injil melalui berkerja bersama. supaya
Dalam bulan November 1950, setelah dibatalkan batas pelayanan di Udadimi Bpk Zakheus Pakage ditempatkan di Bomou dan sekitarnya oleh Misi CAMA untuk memulai merintis daerah Tigi (Bomou), upaya Zakheus Pakage hidupnya sama seperti orang lain, sesuai dengan visinya “mengubah keadaan masyarakat dan menghadirkan nilai-nilai kerajaan Allah diantaranya : Zakheus Pakage mengatur masyarakat dengan baik, pembangunan masyarakat sebagai tanggung jawab bersama, berusaha kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan mutu kehidupan masyarakat bersama.
Gerakan Zakheus Pakage sangat cocok sesuai masyarakat setempat tapi ada anggota masyarakat bergabung dengan Misi CAMA, Misi dan Katolik Pemerintah Belanda menjulukan adalah “WEGEE BAGEE” atau kelompok perusak masyarakat, akibatnya Zakheus Pakage berulang kali keluar masuk penjara.
Pada tahun 1950an itu juga Misi Katolik terus menantang Misi CAMA dan Zakheus Pakage, sehingga Misi Katolik (Pater CAMMAMER) tanamkan patok di Oneibo dan di Buwoudimi, katanya “Di bagian Barat wilayah Kerja Misi Katolik dan bagian Timur wilayah kerja Zakheus Pakage dan Misi CAMA. Namun demikian Widiyaibi Giay dan Yamekabi Giay menentang tindakan itu, katanya, “Pater tidak berhak mengatur kami tetapi kami mengatur sendiri tanah dan batas wilayah pelayanan” akibatnya Pemerintah Belanda penjarakan tokoh-tokoh masyarakat selama 2 (dua) bulan di Waghete.
Dalam bulan November 1950 mengadakan rapat gabungan Misi CAMA dan Misi lokal dan luar dari Paniai dan Misi lokal pribumi bersepakat memulai pelayanan didaerah Tigi sesuai dengan kebutuhan.
Dalam rapat konferensi tersebut ditawarkan kepada hamba Tuhan yang bersedia untuk merintis daerah Baru yang pertama dirintis oleh Misi Katolik, akan tetapi semua hamba Tuhan baik Misi CAMA maupun Misi Lokal dan luar Paniai dan Misi Lokal Pribumi tidak bersedia merintis daerah baru (Tigi) dengan alasan, Pertama : Takut karena daerah baru, Kedua : Takut karena batas pelayanan Wilayah Misi Katolik.
Roh kudus menggerakkan hati seorang hamba Tuhan yakni : Pdt. Christian David Paksoal angkat tangan dari belakang dan berkata bahwa saya (Christian David Paksoal) bersama keluarga bersedia merintis daerah baru (Tigi) dan bersedia menanggung tantangan bersama dengan Zakheus Pakage didaerah baru yang pertama kali dirintis oleh Misi Katolik itu.
Waktu itu Bpk Zakheus Pakage mengucapkan syukur kepada Tuhan dengan mencucurkan air mata kedua bela pipi atas bersedianya Bpk Pdt. Ch. D. Paksoal merintis daerah Tigi bersama dengan Bpk Zakheus Pakage.
Pada tanggal 5 Desember 1950, Pdt. Christian David Paksoal dan Pdt.. Einer Mickelson datang ke Yibagouyoweta (Bomou III) menawarkan membuka Pos Pekabaran Injil, kita mulai buka di Yibagouyoweta (Bomou III) tetapi Bpk Zakheus Pakage katakan fasilitas yang cocok, tempat yang layak untuk membuka Pos Pekabaran Injil adalah di Bomou I (Yakagokebo) dimana pusat manusia (Mee bokouda) yang sekarang disebut Bethani Bomou I yang merupakan pusat penginjilan dibagian barat dan bagian selatan sampai pada daerah pantai.
Setelah satu, dua hari Pdt. Ch D. Paksoal dan Pdt. Einer Mickelson bersama Bpk Zakheus Pakage serta ada beberapa tokoh masyarakat Bomou I, Bomou II dan Bomou III datang melakukan survei tempat yang ditentukan yaitu Yakagokebo, lalu berdoa dan mengucapkan syukur kepada Tuhan sambil tanamkan patok.
Bpk Pdt. Christian David Paksoal dan Pdt. Einer Mickelson kembali ke Enarotali untuk mengikuti pesta Natal di Enarotali.
Pada bulan Januari 1951 Bpk Zakheus Pakage mengutus dua orang murid yaitu; Degamoye (Adolof pakage) dan Eniyamoye (Daud Kotouki). Eniyamoye (Daud Kotouki) katakana “Tindakan Iman kami menginjak batas wilayah Udadimi dalam nama Allah, Yesus dan Rohkudus.
Pada tanggal 11 Januari 1951 Pdt. Christian David Paksoal bersama keluarga tiba di Bomou, (Iputakaapa)membawa Peti Tabut Perjanjian.Setibanya sampai di (Iputakaapa) Yakagokebo, Ch. D Paksoal memberikan Tabut perjanjian tersebut ke tangan kedua murid Zakheus Pakage yakni Adolof Pakage, Daud Kotouki, sambil berkata bahwa“Ini Firman Yang Benar, Firman Yang Hidup memberikan kepada kamu, kepada semua orang Bomou dan sekitarnya jadi pegang baik, piara baik sampai bertumbuh dan berkembang”.
Tanggal 11 Januari merupakan Hari Ulang Tahun Gereja Kemah Injil Bethani Bomou I khususnya dan pada umumnya beberapa koordinator di wilayah Barat dan Selatan serta pantai Selatan.
Pelayanan Pdt. Ch. D. Paksoal dan Bpk Zakheus Pakage berkembang cepat namun pihak Misi Katolik menantang terus, maka kata Pdt. Ch. D. Paksoal bahwa keterbukaan hati masyarakat Bomou dan sekitarnya ada kerinduan besar untuk mendengarkan firman Tuhan, sudah terlihat bahwa masyarakat sambut positif setiap kali pemberitaan Injil. Oleh karena itu, keputusan untuk membuka Pos Pekabaran Injil mulai dari (Yakagokebo) Bomou I daerah Tigi adalah keputusan yang tepat dan dalam rencana Allah untuk dituai.
Pada tahun 1952 Thomas Adii usai Sekolah Alkitab melayani bersama dengan Paksoal dan Zakheus di Bomou (Yakagokebo).
Berdasarkan sikap Pdt. Ch. D. Paksoal Keputusan untuk membuka Pos Pekabaran Injil mulai dari (Yakagokebo) Bomou I adalah keputusan yang tepat dan dalam rencana Allah, maka tokoh-tokoh gereja atau hamba-hamba Tuhan dapat mengembangkan pelayanan didaerah Tigi, Debei, Kamuu dan Mapia.
Tahun 1952 Petrus Pakage, Petrus Dogopia dan Elisabet Pakage dan Salmon Pakage membuka Sekolah Minggu di Begapa, lalu persembahan dibawa ke jemaat induk Bethani Bomou pada saat ruang ibadah umum berlangsung.
Tahun 1953 Keluarga Putes Pakage dan Keluarga Petrus Dogopia membuka Pos Pekabaran Injil pertama di Gakokebo.
Dalam bulan Januari 1954 Keluarga Thomas Adii membuka Pos Pekabaran Injil pertama di Onaago.
Pada Tahun 1954, Luter Adii dan Lukas Yeimo merintis pelayanan di Dagou dan membuka Pos Pekabaran Injil
Pada tahun 1954 Daud Kotouki mulai bersaksi didaerah Debei Widuwakiya, Tadauto. Iboyaitawi dan Ogiaywogi Pigai percaya diri bahwa Injil itu benar,
Tahun 1954 Adolof Pakage pergi merintis Kegouda (di lembah kamuu Selatan).
Pada tahun 1955 Ev. Isak Pakage membuka Pos Pekabaran Injil di Kegeta dan Matius Pakage membuka Pos Pekabaran Injil di Tikigii (Mapia).
Pada tahun 1957 Ev. YesayaDawapa, Esau Giay pergi menginjili Dipa dan Dikiya, hasilnya Yosia Wakei menjadi hamba Tuhan.
Tahun 1950-an Ev. Elias Edoway diutus di Bukapa, Widiyaibi mengantar ke Bukapa, Widiwiyai Iyai menerima mereka.
Elisa kembali ke Tigi untuk membuka Pos Pekabaran Injil di Tenedagi.
Tahun 1955-1961 keluarga Pilemon diutus kebo II (Paniai Utara) dan membuka Pos Pekabaran Injil selama 6 tahun melayani Tuhan Kebo II di Abakogopa.
Tahun 1957-1958 Gradus Adii dan Yusuf Pekei dari VVS Gakakebo mulai bersaksi dibeberapa tempat yaitu, Dago, Yatamo, Ibodiyo, Digibagata dan Piyake Dimi.
Tahun 1960 Daud Kotouki menginjili di Kigimei dengan memakai alat peraga penginjilan yaitu Almafon dan 1965 membuka Gereja Ibodiyo
Tahun 1961 Ev. Pilemon Pakage dengan Obaja Ukago mulai bersaksi beberapa tempat yaitu Puteyato, Idaiyo Dagi, dan Mugiay.
Pada tahun 1960-an Zakheus Pakage, Daud Kotouki, Adolof Pakage Yohanes Kotouki pergi survei Digiuto, mereka disambut oleh tokoh-tokoh masyarakat yaitu : Okeitaiyede Doo, Kemeyaaede Doo dan Bidayaaede Adii setelah itu Marten Edoway dan Marius Edoway Pergi menginjili ditempat itu, tapi pihak katolik menentang mereka.
Tahun 1950-an Ev. Daan Adii diutus ke Obaipugaida Klasis Aga Barat.
Kornelis Edoway Mathius Pigome merintis di Iyei.
Pada tahun 1950-an Soleman Pekey diutus ke Dogimani untuk merintis pelayan baru dan membuka Gereja Kingmi disitu dan diikut oleh Martinus Pakage.
Pada tahun 1957 Gelard Giay ditugaskan di Muyekebo daerah Kamuu.
Dalam tahun 1960-an Pelayanan Kedua Ev. Ishak Pakage ditempatkan di Dogimani (Kecamatan Kamuu).
Pada tahun 1961 Daud Kotouki dan Polisi Andrias Pekei mulai Survei di Ugiya untuk membuka Gereja tapi misi Katolik menentang dan menghalangi. Sehingga masalah dibawa di Kantor Polisi lalu polisi mengatakan bahwa pelayanan Katolik dan Zending bebas melayani dikeliling Danau Tigi.
Tahun 1963 1 Agustus keluarga Ch. D. Paksoal pindah ke Waghete sebagai gembala sidang dan dalam tahun itu juga membuka Sekolah Rakyat (SR) di Waghete.
Tanggal 6 April 1962, Konferensi misi CAMA di Beoga untuk merancang nama Sinode dan nama KINGMI. Peserta Konfrensi dari Misi Lokal adalah Bapak Christian David Paksoal, bpk Isak Pakage, Bpk Matius Tebai, Bapak Yosia Tebai, 2 orang Lani dan seorang Damal.
Tanggal 6 April 1963 Konferensi Pertama diadakan Bomou, dalam konferensi tersebut dilengkapi dan dilantik Badan Pengurus eksekutif Sinode, dan disahkan nama Kingmi dan menetapkan Kantor Sinode di Jayapura serta nama panitia ditetapkan menjadi Distrik.
Tahun 1963 sampai 1972 merumuskan Tata Gereja Kingmi dan menetapkan melalui Hukum Negara Republik Indonesia.
2. Pada Pendelegasian tugas misi CAMA kepada misi lokal
a. Tahun 1957 s/d 1961 Misi CAMA mencoba dan melatih Misi LOKAL dalam penkaderan kepemimpinan dengan jabatan Panitia
b. Tahun 1962 s/d 1972 Misi CAMA membentuk organisasi baru yaitu nama Gereja Kingmi dan sinode dan periode itu teleh merumuskan Tata Gereja Kingmi di Tanah Papua dengan Akta Notaris Nomor 37 Tanggal 20 Meret 1973.
3. Masa organisir Gereja KINGMI
Tanggal 15 sampai dengan 17 November 1972 diadakan Konferensi di Piramid Kabupaten Jayawijaya, dalam konferensi tersebut menetapkan Tata Gereja secara resmi dan nama Distrik dirobah dan ditetapkan dengan nama Klasis.
Tanggal 6 April 1973 Gereja Kingmi secara resmi mengadakan Hari Ulang Tahun Kingmi di Tanah Papua
Tanggal 28 Agustus 1963 Bpk. Yusak Ikomou membentuk Organisasi Angkatan Muda Kemah Injil (AMKI) di Bomou I, karena peranan pemuda sangat penting dalam kegiatan-kegiatan jemaat.
Pada tahun 1952 Ch. D. Paksoal dan Ny. Yohana Yuliana Mayari mendirikan Sekolah Minggu di Bethani Bomou I (Daerah Tigi).
Pada tahun 1974 Bpk Yusak Ikomou membentuk Kelompok Pemuda dan Pemudi dengan nama Sinar Rohani I (satu). dan selanjutnya membuka atau membentuk kelompok pemuda/I disekitar daerah Tigi, Kamuu, Mapia, dan Paniai melalui Ibadah Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR).
Pada tahun 1970-an Yosia Pakage pendiri Organisasi Sekolah Minggu Kanak-kanak. Tahun 1974 dan 1975 Yosia Pakage dan Kelompok Sekolah Minggu Kanak-kanak Jemaat Bethani Bomou membentuk organisasi Sekolah Minggu gereja-gereja Induk Daerah Tigi.
Pada tahun 1976 Bpk Yusak Ikomou membentuk Tim Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) dengan Thema :Membangun Tubuh Kristus.
4. Pemekaran Klasis
Membentuk jabatan ketua klasis daerah Tigi :
a. Klasis Tigi
Ø Ketua klasis pertama di Tigi adalah Pdt. Marten Agapa tahun 1973-1977 (satu periode)
Ø Ketua Klasis kedua Pdt. Isak Pakage tahun 1977-1983 (dua periode)
Ø Ketua Klasis ketiga Pdt. Marthen Pigai tahun 1984-1991 (dua periode)
Ø Ketua klasis keempat Pdt. Martinus Pakage satu tahun, periode ini diteruskan oleh wakil klasis yaitu Pdt. Yermias Giay tahun 1991-1996
Ø Ketua Klasis kelima Pdt. Silas Pekei tahun 1997-2009 (tiga periode)
Ø Ketua Klasis ketujuh Pdt. Nerius Mote tahun 2010-2015
b. Klasis Yatamo
Ø Ketua klasis pertama Pdt. Martinus Adii tahun 1987-1991 (satu periode)
Ø Ketua klasis kedua Pdt. Obaja Pigome tahun 1991-1996 (satu periode)
Ø Ketua klasis ketiga Pdt. Marten Madai tahun 1996-2015
c. Klasis Tigi Barat
Ø Ketua klasis pertama Pdt. Yohanes Kotouki tahun 1991-2001 (dua periode)
Ø Ketua klasis kedua Pdt. Nius Giay tahun 2002-2015 (tiga periode)
d. Klasis Wagamo (membentuk klasis persiapan tanggal 19 oktober 2003
Ø Ketua klasis pertama Pdt. Neles Pekei tahun 2003-2009
Ø Ketua klasis kedua Pdt. Pelipus Edowai tahun 2010-2015
e. Klasis Tigi Utara
Ø Ketua Klasis pertama Pdt. Paul Anouw tahun 2010-2015
f. Koorditor Deiyai (bentuk tahun 2002 dari konferensi Nabire)
D. DASAR HUKUM
Hukum putusan tersebut telah inkrah dan berkekuatan hukum tetap berdasarkan :
1. Putusan Pengadilan Negeri Jayapura Nomor 43/PDT/2007 tanggal 20 Februari 2009
2. Putusan Pengadilan Tinggi Jayapura Nomor 33/PDT/2008 PT. JPL tanggal 20 Januari 2010
3. Putusan Mahkamah Agung RI. Nomor 1962.K/PDT/2009 tanggal 7 Juni 2010
4. Akte Notaris Nomor 37 tanggal 27 Maret 1973
Surat Keterangan telah mendaftarkan dari Departemen Agama RI Nomor E/VII/62/424/73 tanggal 17 April 1973.
Perubahan Akte Nomor 139 tanggal 16 Juni 2011, pengembangan Nama KINGMI.
Rekomendasi pelayanan tetap Kementerian Agama Kantor Wilayah Provinsi Papua Nomor Kw.26.4/1/BA. 01.1/1554/2010 tanggal 20 Oktober 2010.
Anggaran Rumah Tangga (ART) Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua
5. Hak paten dan hak cipta
a. Telah mendaftarkan logo atau merek Kingmi – Direktorat Jendral hak kekayaan intelektual nomor J00-2011-00-3566 tanggal 28 Januari 2013.
b. Telah mendaftarkan logo Kingmi Direktur Jendral HKI melalui Direktur Hak Cipta Kementerian Kehakiman nomor C00201101712 tanggal 28 April 2011.
c. Pendaftaran Hak Cipta dan Hak Paten Nomor 057465
d. Kementerian Hukum dan HAM Undang-undang Nomor 15 tahun 2001 tentang hak merek logo Nomor pendaftaran : IDM000365027 tanggal 28 Januari 2011. Uraian warna logo Injil Empat Berganda : Merah, Kuning, Hijau dan Biru.
Selamat merayakan Hut PI ke 84 13 Januari 2024. Sejarahnya PI di Klasis ini agak lengkap. Nyalakan terus obor PI.Tuhan memberkati.
BalasHapus